Sabtu, 05 Mei 2012

Lap-Bio : Pengaruh Suhu terhadap Aktivitas Organisme

Diposkan oleh Fitri Ramadhani di 06.41
Reaksi: 

HALAMAN PENGESAHAN
            Laporan lengkap praktikum Biologi Dasar dengan judul “Pengaruh Suhu terhadap Aktivitas Organisme” yang disusun oleh:
            Nama                           : Fitri Ramadhani
            NIM                            : 1112040023
            Kelas/Kelompok         : A / III
            Jurusan                        : Fisika
telah diperiksa dan dikoreksi oleh Asisten dan Koordinator Asisten maka dinyatakan diterima.

Makassar,    November 2011
Koordinator Asisten,                                                                          Asisten,



Muh.Rizaldy Triaz Jaya Putra                                                                              Zaiful
      NIM : 081404024                                                                                        NIM :091404030

Mengetahui,
Dosen Penanggung Jawab



Arsyad Bahri,S.Pd, M.Pd
NIP: 19840255 200604 1 002























BAB  I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
      Banyak faktor yang bisa mempengaruhi organisme dalam melakukan aktivitasnya contohnya pengaruh dari luar seperti lingkungan dan pengaruh dalam yang berasal dari organisme itu sendiri. Salah satu faktor lain yang mempengaruhi aktivitas organisme adalah suhu dimana suhu mempunyai rentang yang dapat ditolelir oleh setiap jenis organisme
      Suhu mempunyai peranan penting dalam mengatur aktivitas biologis organisme baik hewan maupun manusia. Contoh yang paling sederhana yang membuktikan peranan suhu dalam kehidupan makhluk hidup adalah terkadang kita melihat banyak organisme yang tidak melakukan aktivitasnya dengan baik karena pengaruh suhu yang tidak cocok dengan keadaan organisme tersebut.
      Biasanya organisme melakukan aktivitasnya dengan baik pada suhu normal atau sekitar 350 tetapi ada juga beberapa organisme yang melakukan aktivitasnya pada suhu rendah ataupun pada suhu tinggi. Untuk mengetahui lebih jelas tentang pengaruh suhu terhadap aktivitas organisme maka dilakukan percobaan ini dengan menggunakan ikan mas sebagai sampel dari organisme. Semoga dengan melakukan percobaan ini mahasiswa khususnya praktikan mendapatkan pengetahuan baru .
B.        Tujuan praktikum
      Melalui percobaan ini mahasiswa diharapkan dapat membandingkan kecepatan penggunaan oksigen oleh organisme pada suhu yang berbeda.
C.    Manfaat Praktikum
Manfaat yang dapat diperoleh setelah melakukan percobaan ini adalah mahasiswa mengetahui perbandingan kecepatan penggunaan oksigen oleh organisme pada suhu yang berbeda.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
     Suhu merupakan kondisi yang paling penting dan berpengaruh terhadap suatu organisme. Secara garis suhu mempengaruhi proses metabolisme, penyebaran, dan kelimpahan organisme. Perbedaan suhu lingkungan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya sifat siklusnya, garis lintang, ketinggian tempat dan kedalaman. Hubungan antara organisme dengan suhu lingkungan, organisme digolongkan menjadi dua golongan yaitu hewan berdarah panas dan hewan berdarah dingin, tetapi penggunaan ini adalah tidak tepat dan subjektif sehingga tidak akan digunakan ( Sutarno, 2001).
     Tenaga yang dilepaskan dalam respirasi digunakan untuk mensintesiskan molekul yang berperan sebagai penyimpanan kimia tenaga ini. Sebagian yang paling banyak digunakan ialah ATP dan tenaga kimia yang disimpannya boleh digunakan untuk berbagai proses yang memerlkan tenaga termasuk biosintesis. Disebabkan ciri merata ini ATP juga dikenal sebagai ”mata uang tenaga sejagat”, karena jumlah ATP dalam sel menunjukkan beberapa banyak tenaga yang tersedia untuk proses respirasi  eksternal dan internal (Anonim, 2010).
Enzim dapat ditemukan baik pada hewan maupun  pada tumbuhan. Salah satu enzim yang  terdapat pada tumbuhan adalah amilase. Nama lain   dari amilase adalah diastase. Enzim tersebut dapat  menghidrolisis amilum menjadi gula. Amilase dihasilkan oleh daun atau biji yang sedang berkecambah. Aktifitas  amilase dipengaruhi oleh  garam – garam anorganik,  pH,  suhu    dan   cahaya. pH optimum dari amilase adalah 4,5 - 4,7 (Tim Pengajar, 2011).
Insang dalam, lazim disebut insang saja terletak didalam tubuh didaerah pangkal kepaladekat jantung. Insang pada ikan tersusun dari lamella yang berdinding tipis mengandung banyak kapiler darah, berjumlah sepasang, masing-masing terdiri terdiri atas 5 lembar lamella branchialis. Beberapa jenis ikan tertentu, pada insangnya terbentuk bangunan yang merupakan modifikasi arcus branchialis dan disebut labirin. Labirin berbentuk seperti pohon dan banyak pembuluh darah (Suntoro, 2000).
     Enzim dapat menaikkan kecepatan suatu reaksi dengan cara menurunkan energi aktivasi tersebut. Energi aktivasi yang diperlukan oleh suatu enzim bermacam- macam tergantung macam enzimnya. Beberapa enzim ada kalanya terlibat dalam reaksi rantai, yang satu sama lain terikat dalam kompleks multi enzim. Suatu substrat yang telah masuk  kedalam komleks multienzim tidak akan lepas sebelum reaksi ensimatik seluruhnya selesai. Kerja enzim dapat dihambat oleh suatu senyawa lain yang strukturnya mirip dengan struktur substrat yang harus diubah ( Suripto, 2000).  

BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat Praktikum
Hari/Tanggal   : Rabu / 14 Desember 2011
Waktu             : Pukul 14.10 s.d 16.00 WITA
Tempat             : Laboratorium Biologi Lantai 3 Timur FMIPA UNM
B.                                     Alat dan Bahan
1.  Alat
a.    Termometer
b.   Stopwatch
c.    Toples kaca
2.  Bahan
a.   Ikan Mas Koki (Cyprinus capriol)
b.  Es batu
c.   Air kran
d.  Air panas
e.   Kertas label
C. Prosedur kerja
1.    Memasukkan 1 ekor ikan mas koki ke dalam toples yang berisi air kran dan aklimatisasi selama 15 menit.
2.    Mengambil satu ekor ikan mas koki dan memasukkannya ke dalam toples yang berisi air panas (38C). Menghitung dan mencatat frekuensi gerakan (buka-tutup) operculum dalam 1 menit.
3.    Mengambil satu ekor ikan mas koki dan memasukkannya ke dalam toples yang berisi air panas (24C). Menghitung dan mencatat frekuensi gerakan (buka-tutup) operculum dalam 1 menit.
4.    Mengambil satu ekor ikan mas koki dan memasukkannya ke dalam toples yang berisi air panas (16C). Menghitung dan mencatat frekuensi gerakan ( buka-tutup ) operculum dalam 1 menit.
5.    Mencatat hasil pengamatan dalam tabel.










BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
Tabel data frekuensi gerakan operculum ikan mas koki pada suhu air berbeda
Gelas becker (toples)
Waktu ( menit ke . . . )
Rata-rata
1
2
3
4
5
Air Dingin (16°C)
96
83
74
79
79
82.2
Normal (±27°C)
107
102
107
106
110
86.4
Air Panas (38°C)
70
109
120
100
112
88.2

B.   Analisis Data
1.      Frekuensi gerakan Operculum pada ikan mas yang berada di toples yang berisi air dingin
F = banyak gerakan operculum
                waktu
   = 96 + 83 + 74 + 79 + 79
                           5
   = 411
        5
   = 82.2 kali/menit
2.      Frekuensi gerakan Operculum pada ikan mas yang berada di toples yang berisi air kran (normal)
F = banyak gerakan operculum
                waktu
   = 107 + 102 +107 + 106 + 110
                           5
   = 532
        5
   = 86.4 kali/menit
3.      Frekuensi gerakan Operculum pada ikan mas yang berada di toples yang berisi air panas
F = banyak gerakan operculum
                waktu
   = 70 + 109 + 120 + 100 + 112
                        5
   = 511
        5
   = 88.2 kali/menit
C. Pembahasan
1.    Suhu
             Pada percobaan pertama mengambil 1 ekor ikan mas koki dan memasukkan kedalam becker gelas yang berisi air dingin 16°C. Menghitung dan mencatat gerakan operculum selama 5 menit, gerakan menutup dan membukanya operkulum ikan mas koki selama 1 menit dalm waktu 5 menit gerakannya tidak teratur dari menit 1 sampai menit ke 5 secara berturut-turut yaitu 96, 83, 74, 79, dan 79 kali/ menit. Dengan rata-rata 82.2 kali/menit. Hal ini disebabkan karena kandungan O2 dalam air dingin sangat banyak sehingga dalam memenuhi kebutuhan ikan akan oksigen, ikan harus mengeluarkan karbon dioksida sedikit untuk mengambil oksigen dari lingkungannya. Data yang diperoleh sudah sesuai dengan teori yang menyatakan jika ikan berada pada air yang suhunya dingin maka gerrakan overculumnya mengalami penurunan suhu akan menghambat kerja enzim.

2.    Suhu ±
  Pada kegiatan ketiga mengambil 1 ekor ikan mas koki dan memasukkan kedalam becker gelas yang berisi air kran ± . Menghitung dan mencatat gerakan operculum selama 5 menit, gerakan menutup dan membukanya operkulum ikan mas koki selama 1 menit dalm waktu 5 menit gerakannya tidak teratur dari menit 1 sampai menit ke 5 secara berturut-turut yaitu 107,102,107,106, dan 110 kali/menit. Dengan rata-rata 86.4 kali/menit.
3.    Suhu
          Pada percobaan ini digunakan 1 ekor ikan mas koki yang ditempatkan pada becker gelas dengan suhu yang sama dan diaklimitasi selama 15 menit. Pada kegiatan pertama mengambil 1 ekor ikan mas koki dan memasukkan kedalam becker gelas yang berisi air panas 38°C. Menghitung dan mencatat gerakan operculum selama 5 menit, gerakan menetup dan membukanya operkulum ikan mas koki selama 1 menit dalm waktu 5 menit gerakannya tidak teratur dari menit 1 sampai menit ke 5 secara berturut-turut yaitu 70,109,120,100 dan 112 kali/ menit. Dengan rata-rata 88.2 ml/menit. Artinya kecepatan respirasi ikan bertambah, karena suhu meningkat sehingga kerja enzim yang bekerja saat proses metabolisme juga meningkat.
                                                 


BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pada percobaan yang dilakukan, pergerakan operculum ikan mas koki berbeda dalam waktu yang sama dimana pada suhu panas gerakan operculumnya lebih cepat dibanding pada suhu normal serta dingin, dimana pada suhu yang dingin lebih lambat daripada suhu normal. Hal itu disebabkan karena semakin banyak kebutuhan O2 nya maka respirasi semakin cepat. Respirasi yang dilakukan suatu organisme selalu berbeda apabila berada pada lingkungan yang suhunya berbeda pula.
B.     Saran
1.      Diharapkan kepada praktikan agar memperhatikan secara menyeluruh apa yang sedang diamati dan hendaknya bekerja sama dalam percobaan ini, jangan hanya duduk melihat rekan sekelompoknya bekerja sendiri dan tenang pada saat melakukan praktikum.
2.      Diharapkan kepada asisten untuk senantiasa aktif dalam membimbing kami sebagai praktikan dan mengontrol dalam pengamatan yang kami lakukan.
3.      Diharapkan kepada laboran untuk melengkapi alat dan bahan yang baru agar praktikum dapat berjalan dengan lancar khususnya ruangan yang benar-benar layak untuk digunakan demi kelancaran praktikum.
















DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Respirasi. http://id.wikipedia.org/wiki/Respirasi .Diakses tanggal 15 Desember   2011.

Suntoro, Susilo Handari. 2001. Anatomi dan Fisiologi Hewan. Jakarta : Universitas Terbuka.

Suripto. 2000. Struktur Hewan. Jakarta : Universitas Terbuka.

Sutarno, Nono. 2001. Biologi Lanjutan II. Jakarta : Universitas Terbuka.

Tim Pengajar, 2011. Penuntun Praktikum Biologi DasarMakassar: Jurusan Biologi Universitas Negeri Makassar.







































LAMPIRAN
1.      Mengapa terjadi perbedaan frekuensi gerakan ikan pada masing-masing becker glass?
Jawab:
Karena suhu  tiap-tiap becker glass berbeda-beda. Sedangkan suhu mempengaruhi reaksi kimia dalam tubuh organisme. Hal ini menyebabkan organisme membutuhkan oksigen lebih banyak. Untuk memperoleh ikan  harus menggerakan operculumnya lebih sering.
2.      Apa kesimpulan saudara terhadap hasil pada becker glass A dan B?
Jawab:
Berdasarkan data yang diperoleh dari data becker glass A dan B dapat saya simpulkan bahwa operculum ikan bekerja secara maksimal pada suhu normal atau pada perlakuan becker glass B yang berisi air kran dibandingkan dengan becker glass A yang berisi air panas dengan suhu tinggi  

0 komentar:

Poskan Komentar

 

ELFitri Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting